Thursday, July 2, 2020

Sudah Ikhlaskah Kita?


Buya Hamka menuturkan bahwa: "Ikhlas artinya bersih, tidak ada campuran. Ibarat emas, emas tulen. Tidak tercampur perak seberapa persen pun. Pekerjaan yang bersih terhadap sesuatu bernama Ikhlas."
Para 'ulama mendefinisikan Ikhlas dengan redaksi yang berbeda-beda. Al-Izz bin Abdis Salam berkata: "Ikhlas adalah seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya."
    Al-Harawi mengatakan: "Ikhlas adalah membersihkan amal dari setiap noda." Yang lain berkata, "Seorang yang ikhlas adalah seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan ia tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya meskipun hanya seberat biji sawi."
Abu Utsman berpendapat, "Ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah)."
    Sampai kapan pun, ikhlas memang punya banyak makna, sama-sama indah jika semua menuliskannya dengan pena, sama-sama terkesima jika para ilmuwan mendefinisikannya dengan orasi dan perbincangan ilmiahnya. Kalau ikhlas adalah makhluk hidup yang bertempat tinggal, maka hati adalah rumahnya.

    Sahabat, sejatinya keikhlasan itu harus dilatih, yang pada awalnya mungkin memang sulit. Melakukan setiap amal dengan keterpaksaan, lalu dipaksa terus hingga engkau terbiasa melakukan suatu amal. Kemudian, perlahan luruskan niatmu, yang hanya berharap keridhoan Allah dan pahala darinya. Karena Ikhlas yang menentukan apakah segala amal kita diterima di hadapan Allah atau tidak.

    Di dalam hati, ikhlas selalu berselisih dengan syirik. Kenapa? Ya... Karena keduanya tinggal di hati. Dan keduanya pun tidak bisa disatukan. Ketika ikhlas sudah di hati dan menguasai isinya, maka tidak ada kata untuk syirik melainkan minggat jauh-jauh. Atau sebaliknya, jika syirik sudah menjadi raja di hati, ya sudahlah. Tidak ada tempat bagi ikhlas, kecuali jika sang pelaku mau bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya.

    Dalam suatu halaqah, Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi Wassalam pernah bertutur sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan juga Imam Nasa'i: "Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada Hari Kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan kemudian ditampakkan kepadanya nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepadanya, maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, "Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?"

    Dia menjawab, "Aku berperang untuk-Mu sampai aku mati syahid."

    Allah berfirman, "Engkau berdusta, sebenarnya engkau berperang karena ingin disebut sebagai pemberani. Dan itu sudah engkau dapatkan di dunia."

    Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

    Yang kedua adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al-Qur'an. Dia didatangkan kemudian ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, "Apakah yang sudah kau perbuat dengannya?"

    Maka dia menjawab, " Aku menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an karena-Mu."

    Allah berfirman, "Engkau telah berdusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Al-Qur'an supaya disebut Qori dan ahlul Qur'an."

    Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

    Lalu yang ketiga adalah seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, "Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya?"

    Dia menjawab, "Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakan harta di jalan-Mu, kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu."

    Allah berfirman, "Engkau berdusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya."

    Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

    Apa hikmahnya dari kisah tadi, Duhai Sahabat?

    Ya, pentingnya sebuah keikhlasan. Berapa banyak orang yang berpidato dan berceramah bertubi-tubi membuat takjub manusia, sementara yang dia inginkan adalah eksistensi dan pamer ilmu hingga rakyat memanggilnya ustadz atau 'ulama tersohor?

    Astaghfirullah, itulah kita?

    Perbuatannya bagus, bagus sekali. Tak ada orang yang menyangkalnya. Namun, yang jadi masalah adalah tempat berdirinya amal-amal itu. Sebab, Fudhail bin Iyadh pernah menuturkan, "Tidak jadi beramal karena takut dikatakan riya' oleh manusia, sejatinya itu adalah perbuatan riya'. Dan beramal karena manusia itu adalah kesyirikan."

    Duhai Sahabat, itu artinya yang senantiasa kita lakukan adalah tetaplah beramal baik sambil terus-menerus meminta perlindungan dan pertolongan Allah untuk dapat ikhlas dalam setiap amal, serta dijauhkan oleh-Nya dari kesyirikan dan riya'.

     Maka, dialog hadis di atas menjadi bukti penting bagi kita; Jangan remehkan keikhlasan. Amalnya keren-keren: ada yang terbunuh di medan jihad, ada yang menyampaikan ilmu, bahkan ada yang berinfak siang-malam. Namun, justru Rasulullah SAW mengabarkan berita yang membuat kita menjadi waspada.

    Yaa, sekali lagi, mereka adalah para penghuni neraka mula-mula!

    Bergeraklah sekarang untuk membersihkan hati kita dari kesyirikan walau sekecil apa pun. Sangat berbahaya jikalau syirik sudah menjadi tiang penyangga amal yang kita buat selama ini.

    Semangat selalu, Duhai Sahabat!   

    Saudaramu,
    Abdel Achrian.


*(Dikutip dari Buku Bang Edgar Hamas: Untuk Kalian yang Rindu Perubahan, Sub Tema: Ikhlas)

Share:

Wednesday, February 13, 2019

Sejarah Kelam 14 Februari



6 KERUSAKAN HARI VALENTINE


Penulis Muhammad Abduh Tuasikal, MSc -  February 4, 2010 2849 126


    Banyak kalangan pasti sudah mengenal hari valentine (bahasa Inggris: Valentine’s Day). Hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta. Namun, hari tersebut memiliki makna yang lebih luas lagi. Di antaranya kasih sayang antara sesama, pasangan suami-istri, orang tua-anak, kakak-adik dan lainnya. Sehingga valentine’s day biasa disebut pula dengan hari kasih sayang.

Cikal Bakal Hari Valentine
Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul Valentine’s Day. Namun, pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata.

Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan dijadikan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.

Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity).

Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Book Encyclopedia 1998).

Kaitan Hari Kasih Sayang dengan Valentine
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” yang dimaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

1⃣ *Versi pertama* Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

2⃣ *Versi kedua* menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (The World Book Encyclopedia, 1998).

3⃣ *Versi ketiga* menceritakan bahwa sore hari sebelum Santo Valentinus akan gugur sebagai martir (mati sebagai pahlawan karena memperjuangkan kepercayaan), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya kepada sipir penjaranya yang tertulis “Dari Valentinusmu”. (Sumber pembahasan di atas: http://id.wikipedia.org/ dan lain-lain)

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan:

Valentine’s Day berasal dari upacara keagamaan Romawi Kuno yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.
Upacara Romawi Kuno di atas akhirnya dirubah menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day atas inisiatif Paus Gelasius I. Jadi acara valentine menjadi ritual agama Nashrani yang dirubah peringatannya menjadi tanggal 14 Februari, bertepatan dengan matinya St. Valentine.

Hari valentine juga adalah hari penghormatan kepada tokoh nashrani yang dianggap sebagai pejuang dan pembela cinta.

Pada perkembangannya di zaman modern saat ini, perayaan valentine disamarkan dengan dihiasi nama “hari kasih sayang”.
*SUNGGUH IRONIS MEMANG KONDISI UMAT ISLAM SAAT INI. SEBAGIAN ORANG MUNGKIN SUDAH MENGETAHUI KENYATAAN SEJARAH DI ATAS. SEOLAH-OLAH MEREKA MENUTUP MATA DAN MENYATAKAN BOLEH-BOLEH SAJA MERAYAKAN HARI VALENTINE YANG CIKAL BAKAL SEBENARNYA ADALAH RITUAL PAGANISME. SUDAH SEPATUTNYA KAUM MUSLIMIN BERPIKIR, TIDAK SEPANTASNYA MEREKA MERAYAKAN HARI TERSEBUT SETELAH JELAS-JELAS NYATA BAHWA RITUAL VALENTINE ADALAH RITUAL NON MUSLIM BAHKAN BERMULA DARI RITUAL PAGANISME.*

Selanjutnya kita akan melihat berbagai kerusakan yang ada di hari Valentine.

1⃣ *Merayakan Valentine Berarti Meniru-niru Orang Kafir*
Agama Islam telah melarang kita meniru-niru orang kafir (baca: tasyabbuh). Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (baca: ijma’). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al ‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al Islamiyah).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kita menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لاَ يَصْبُغُونَ ، فَخَالِفُوهُمْ

“Sesungguhnya orang Yahudi dan Nashrani tidak mau merubah uban, maka selisihlah mereka.” (HR. Bukhari no. 3462 dan Muslim no. 2103) Hadits ini menunjukkan kepada kita agar menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani secara umum dan di antara bentuk menyelisihi mereka adalah dalam masalah uban. (Iqtidho’, 1/185)

Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan secara umum supaya kita tidak meniru-niru orang kafir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ [hal. 1/269] mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaiman dalam Irwa’ul Gholil no. 1269). Telah jelas di muka bahwa hari Valentine adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakannya berarti telah meniru-niru mereka.

2⃣ *Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman*
Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam valentine. Semoga ayat berikut bisa menjadi renungan bagi kita semua.

Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan zur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqon [25]: 72)

Ibnul Jauziy dalam Zaadul Masir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan zur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan zur. Di antara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan zur” adalah tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Inilah yang dikatakan oleh Ar Robi’ bin Anas.

Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.

3⃣ *Mengagungkan Sang Pejuang Cinta Akan Berkumpul Bersamanya di Hari Kiamat Nanti*
Jika orang mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan keutamaan berikut ini.

Dari Anas bin Malik, beliau mengatakan bahwa seseorang bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَتَّى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ

“Kapan terjadi hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

مَا أَعْدَدْتَ لَهَا

“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”

Orang tersebut menjawab,

مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلاَةٍ وَلاَ صَوْمٍ وَلاَ صَدَقَةٍ ، وَلَكِنِّى أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Aku tidaklah mempersiapkan untuk menghadapi hari tersebut dengan banyak shalat, banyak puasa dan banyak sedekah. Tetapi yang aku persiapkan adalah cinta Allah dan Rasul-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“(Kalau begitu) engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain di Shohih Bukhari, Anas mengatakan,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan,

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”

Bandingkan, bagaimana jika yang dicintai dan diagungkan adalah seorang tokoh Nashrani yang dianggap sebagai pembela dan pejuang cinta di saat raja melarang menikahkan para pemuda. Valentine-lah sebagai pahlawan dan pejuang ketika itu. Lihatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas: “Kalau begitu engkau bersama dengan orang yang engkau cintai”. Jika Anda seorang muslim, manakah yang Anda pilih, dikumpulkan bersama orang-orang sholeh ataukah bersama tokoh Nashrani yang jelas-jelas kafir?

Siapa yang mau dikumpulkan di hari kiamat bersama dengan orang-orang kafir[?] Semoga menjadi bahan renungan bagi Anda, wahai para pengagum Valentine!

4⃣ *Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus Dalam Kesyirikan dan Maksiat*
“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. (Dari berbagai sumber)

Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

Kami pun telah kemukakan di awal bahwa hari valentine jelas-jelas adalah perayaan nashrani, bahkan semula adalah ritual paganisme. Oleh karena itu, mengucapkan selamat hari kasih sayang atau ucapan selamat dalam hari raya orang kafir lainnya adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan kesepakatan para ulama (baca: ijma’ kaum muslimin), sebagaimana hal ini dikemukakan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkamu Ahlidz Dzimmah (1/441, Asy Syamilah). Beliau rahimahullah mengatakan, “Adapun memberi ucapan selamat pada syi’ar-syi’ar kekufuran yang khusus bagi orang-orang kafir (seperti mengucapkan selamat natal atau selamat hari valentine, pen) adalah sesuatu yang diharamkan berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin. Contohnya adalah memberi ucapan selamat pada hari raya dan puasa mereka seperti mengatakan, ‘Semoga hari ini adalah hari yang berkah bagimu’, atau dengan ucapan selamat pada hari besar mereka dan semacamnya. Kalau memang orang yang mengucapkan hal ini bisa selamat dari kekafiran, namun dia tidak akan lolos dari perkara yang diharamkan. Ucapan selamat hari raya seperti ini pada mereka sama saja dengan kita mengucapkan selamat atas sujud yang mereka lakukan pada salib, bahkan perbuatan seperti ini lebih besar dosanya di sisi Allah. Ucapan selamat semacam ini lebih dibenci oleh Allah dibanding seseorang memberi ucapan selamat pada orang yang minum minuman keras, membunuh jiwa, berzina, atau ucapan selamat pada maksiat lainnya.”

5⃣ *Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Berzina*
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzu billah min dzalik.

Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isro’ [17]: 32)

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang.

6⃣ *Meniru Perbuatan Setan*
Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, hadiah, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala. Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada hal lainnya. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia, hanya demi merayakan hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan.” (QS. Al Isro’ [17]: 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Penutup
Itulah sebagian kerusakan yang ada di hari valentine, mulai dari paganisme, kesyirikan, ritual Nashrani, perzinaan dan pemborosan. Sebenarnya, cinta dan kasih sayang yang diagung-agungkan di hari tersebut adalah sesuatu yang semu yang akan merusak akhlak dan norma-norma agama. Perlu diketahui pula bahwa Valentine’s Day bukan hanya diingkari oleh pemuka Islam melainkan juga oleh agama lainnya. Sebagaimana berita yang kami peroleh dari internet bahwa hari Valentine juga diingkari di India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Alasannya, karena hari valentine dapat merusak tatanan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat. Kami katakan: “Hanya orang yang tertutup hatinya dan mempertuhankan hawa nafsu saja yang enggan menerima kebenaran.”

Oleh karena itu, kami ingatkan agar kaum muslimin tidak ikut-ikutan merayakan hari Valentine, tidak boleh mengucapkan selamat hari Valentine, juga tidak boleh membantu menyemarakkan acara ini dengan jual beli, mengirim kartu, mencetak, dan mensponsori acara tersebut karena ini termasuk tolong menolong dalam dosa dan kemaksiatan. Ingatlah, Setiap orang haruslah takut pada kemurkaan Allah Ta’ala. Semoga tulisan ini dapat tersebar pada kaum muslimin yang lainnya yang belum mengetahui. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.


Panggang, Gunung Kidul, 12 Shofar 1430 H

Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya

Akhukum fillah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Rumaysho.Com
Share:

Thursday, November 1, 2018

Kabar Dari Sang Mawar



Malam membisikkan inginnya bersamaku
Lewat belaian angin dikirimnya rindu itu
Bertemu dengan kupingku
Masuk mengaliri desiran darahku
Menambah hitungan degup jantungku,

Dalam hentakan bumi rindu, malam ini
Aku merasa dibuai
Oleh sapanya
Membuat sunyi berdansa ria di kulit pipiku
Menampar diamku,
Meruntuhkan dinding imanku,

Betapa tidak,
Bertahun sudah aku kirim kabar rinduku
Lewat gumam doa di sepertiga malam
Namun malam ini,
Kan kuceritakan tatap harap itu
Sejuta inginku akan dirimu

Aduhai rindu,
Antarkan aku kepada muara indahnya akhlakmu
Bantu aku membiasakan diri dengan ayat-Nya yang kau lantunkan begitu lincah
Bawa aku pada kursi raja-ratu sehari
Tuntun aku dalam jalan-Nya

Aduhai rindu,
Peganglah ubun-ubunku,
Indahkan akhlaqku lewat doamu
Panggil aku rindu,
Benarkan bisik langit yang kudengar setiap sepertiga malamnya
Dan nyatakan bahwa bibirmu telah lama mengukir namaku disana,
Ya, di catatan doamu.

Goresan Pena: MSM
Share:

Tuesday, September 4, 2018

THE YOUNG MAN OF HOPE


Bismillaahirrahmanirrahiim


Oleh: Muhammad Syahnuryawan

Tak terasa negeri dan tanah air ini, Republik Indonesia telah menjulang tinggi gagah perkasa 73 tahun lamanya, mengingatkanku dengan perkataan Ir. Sukarno, Sang Proklamator dahulu.

"Beri Aku 10 orang pemuda, maka Aku akan guncangkan dunia."

Ku renungi, bagaimana hanya dengan 10 orang pemuda dapat mengguncangkan dunia? Padahal 11 orang pemuda dalam satu tim sepak bola saja, belum tentu memenangkan pertandingan. Padahal 41 orang siswa/mahasiswa belum tentu baik dalam berkoordinasi di kelasnya. Padahal banyak di antara 101, 1.001, 10.001, 100.001, 1.000.001 pemuda pun masih banyak yang belum baik mengurusi dirinya sendiri. Bisa jadi termasuk diriku ini.

Jumat, 14 Agustus 2015, tepat 1099 hari yang lalu, ketika itu ku dengarkan khutbah Shalat Jumat di Masjid Nurul Irfan, UNJ, yang dimana khutbah tersebut bertemakan "Islam dan Kemerdekaan", baru ku sadari ternyata ada makna dibalik makna, di balik ucapan Ir. Sukarno tersebut.

Ya, ternyata ucapan "10 pemuda dapat mengguncangkan dunia" secara kontekstualnya bukan menandakan seberapa banyak pemuda dapat menggucangkan dunia, melainkan kualitas pemuda itu sendiri yang setelahnya menghasilkan kualitas pemuda jama'i (bersama), dari 1 ke 11 ke 101 ke 1.001 ke 10.001 ke 100.001 ke 1.000.001 pemuda dst. Lalu, pemuda seperti apa yang berkualitas tersebut?

Sejatinya, pemuda berkualitas tersebut atau kalau boleh ku sebut sebagai "The Young Man of Hope" adalah dia yang menanamkan dua hal dalam hati, akal dan tulang punggungnya.

Dua hal tersebut; Ketakwaan kepada Allaah SWT, Tuhan YME yang dibungkus idealisme terhadap nilai-nilai kehidupan, lalu setelahnya hubungan baik kepada sesama manusia dengan semangat untuk menyebarkan dan mengobarkan kebaikan.

Sungguh sahabat, kemerdekaan ini dahulu dapat diraih oleh para pejuang, karena mereka "memantaskan diri" untuk menjadi "pemuda" itu.

Mereka boleh jadi tua secara usia, namun tetap berhati, berakal, dan bertulang punggung layaknya "The Young Man of Hope", pemuda harapan.

So, mari bersinergi, dengan kerja kita berprestasi; bersinergi dalam ketakwaan, bekerja dalam perjuangan, berprestasi dalam idealisme kehidupan.

#kerjakitaprestasibangsa
Share:

Penduduk Khayalan Pagiku


Di tepi sungai pagi ini
Aku tertandang malu
Malu yang mulai setiap paginya menghiasi merah rona pipi ini
Sebab pesanku sudah sudi terbalas olehmu

Cahaya remang matahari pagi menambah kilau binar dari mataku yang kini kau isi dengan decak kagumku akan dirimu
Akan gemerlap cahaya mengagumkan yang kuingat dari mata polos mu

Matamu yang selalu menjauh dari mataku
Menambah keinginan hati memanjat kan doa di malam malam ku
Meminta senja untuk tak datang dulu
Agar kini kunikmati pagi yang jauh dari kulitmu
Dengan hangat senyummu yang kian menyelimuti dinginnya pagi ku
Meski kutau senyum itu tak jarang bukan untukku

Aku tak mudah mengecap rasa,
Pun mengucap cinta,
Namun kini aku tau sekali, bahwa aku tengah tertambat
Oleh jaring sikap dingin mu,

Aku mencintai setiap detik yang kau habiskan,
Mencintai penjagaan yang kau lakukan,
Mencintai matamu yang selalu membuat aku ingin mengulum pagi indah yang kurasakan,
Pagi yang kuhayalkan kuhabiskan menuju senja bersama kau yang ku anggap pangeran,
dikirim dari kayangan

Goresan Pena: Mawar Serambi Mekkah bunga mawar
Share:

Tips-Tips Muatan Materi / Strategi Menjadi Mentor


Bismillaahirrahmanirrahiim

Oleh: Bang Saiful Bahri (Bang Ipung)


1. Memberikan ruang bagi mentee yang terlihat aktif.

2. Terhadap mentee/binaan yang mempunyai kelebihan, diberikan lebih, contohnya saat tilawah.

3. Bentuknya sharing, membuat kesetaraan, transfer ilmu bersama.

4. Membentuk komunikasi 2 arah yang aktif.

5. Mengambil arus pembicaraan (jangan sampai ada kekosongan).

6. Review materi / kita tanya tentang materi yang akan dibahas.

7.  Membangkitkan rasa berani, keinginan akan mempelajari materi, dan perhatian.

8. Sambung dengan cerita, shirah, film (kartun) untuk ketertarikan. Lalu bawa ke dunia Islam.

9. Mengoptimalkan kemampuan mentee.

10. Membaca gestur dan mimik wajah dari mentee.


wallahu a'lam
@abeng87
Share:

Kaidah Dakwah


[Foto: Pertemuan Karisma 31 di Universitas Indonesia]

Bismillaahirrahmanirrahiim


Oleh  : Bang Muhammad Muzlifatul Islam

[21 Februari 2016]

(Q.S. An-Nahl [16]: 125)

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah (bijaksana), pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik......".

1. Memberikan keteladanan, sebelum memberikan seruan/perintah.

2. Berusaha mengikat hatinya dahulu, sebelum mengenalkan/memberikan ilmu.

3. Memberikan pengenalan pengetahuan/ilmu, sebelum memberikan beban.

4. Memberikan beban dengan bertahap-tahap.

5. Memberikan kemudahan, bukan malah mempersulit.

6. Memberikan wawasan atau ilmu yang pokok dahulu, sebelum yang cabang.

7. Memberikan kabar gembira (kesenangan) dahulu, sebelum memberi peringatan.

8. Memberikan pemahaman dahulu, sebelum mendikte/mengarahkan.

9. Mendidik, bukan menelanjangi (sekedar menyuruh dan menelantarkan).

10. Muridnya Guru, bukan muridnya Buku.


Wallahu a'lam.
@abeng87
Share: