Thursday, July 2, 2020

Sudah Ikhlaskah Kita?


Buya Hamka menuturkan bahwa: "Ikhlas artinya bersih, tidak ada campuran. Ibarat emas, emas tulen. Tidak tercampur perak seberapa persen pun. Pekerjaan yang bersih terhadap sesuatu bernama Ikhlas."
Para 'ulama mendefinisikan Ikhlas dengan redaksi yang berbeda-beda. Al-Izz bin Abdis Salam berkata: "Ikhlas adalah seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya."
    Al-Harawi mengatakan: "Ikhlas adalah membersihkan amal dari setiap noda." Yang lain berkata, "Seorang yang ikhlas adalah seorang yang tidak mencari perhatian di hati manusia dalam rangka memperbaiki hatinya di hadapan Allah, dan ia tidak suka seandainya manusia sampai memperhatikan amalnya meskipun hanya seberat biji sawi."
Abu Utsman berpendapat, "Ikhlas adalah melupakan pandangan makhluk, dengan selalu melihat kepada Khaliq (Allah)."
    Sampai kapan pun, ikhlas memang punya banyak makna, sama-sama indah jika semua menuliskannya dengan pena, sama-sama terkesima jika para ilmuwan mendefinisikannya dengan orasi dan perbincangan ilmiahnya. Kalau ikhlas adalah makhluk hidup yang bertempat tinggal, maka hati adalah rumahnya.

    Sahabat, sejatinya keikhlasan itu harus dilatih, yang pada awalnya mungkin memang sulit. Melakukan setiap amal dengan keterpaksaan, lalu dipaksa terus hingga engkau terbiasa melakukan suatu amal. Kemudian, perlahan luruskan niatmu, yang hanya berharap keridhoan Allah dan pahala darinya. Karena Ikhlas yang menentukan apakah segala amal kita diterima di hadapan Allah atau tidak.

    Di dalam hati, ikhlas selalu berselisih dengan syirik. Kenapa? Ya... Karena keduanya tinggal di hati. Dan keduanya pun tidak bisa disatukan. Ketika ikhlas sudah di hati dan menguasai isinya, maka tidak ada kata untuk syirik melainkan minggat jauh-jauh. Atau sebaliknya, jika syirik sudah menjadi raja di hati, ya sudahlah. Tidak ada tempat bagi ikhlas, kecuali jika sang pelaku mau bertaubat dengan taubat yang sebenar-benarnya.

    Dalam suatu halaqah, Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi Wassalam pernah bertutur sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Ahmad, dan juga Imam Nasa'i: "Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada Hari Kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan kemudian ditampakkan kepadanya nikmat-nikmat yang diberikan Allah kepadanya, maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, "Apa yang kamu lakukan dengan nikmat-nikmat tersebut?"

    Dia menjawab, "Aku berperang untuk-Mu sampai aku mati syahid."

    Allah berfirman, "Engkau berdusta, sebenarnya engkau berperang karena ingin disebut sebagai pemberani. Dan itu sudah engkau dapatkan di dunia."

    Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

    Yang kedua adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al-Qur'an. Dia didatangkan kemudian ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, "Apakah yang sudah kau perbuat dengannya?"

    Maka dia menjawab, " Aku menuntut ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur'an karena-Mu."

    Allah berfirman, "Engkau telah berdusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Al-Qur'an supaya disebut Qori dan ahlul Qur'an."

    Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

    Lalu yang ketiga adalah seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, "Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya?"

    Dia menjawab, "Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakan harta di jalan-Mu, kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu."

    Allah berfirman, "Engkau berdusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya."

    Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

    Apa hikmahnya dari kisah tadi, Duhai Sahabat?

    Ya, pentingnya sebuah keikhlasan. Berapa banyak orang yang berpidato dan berceramah bertubi-tubi membuat takjub manusia, sementara yang dia inginkan adalah eksistensi dan pamer ilmu hingga rakyat memanggilnya ustadz atau 'ulama tersohor?

    Astaghfirullah, itulah kita?

    Perbuatannya bagus, bagus sekali. Tak ada orang yang menyangkalnya. Namun, yang jadi masalah adalah tempat berdirinya amal-amal itu. Sebab, Fudhail bin Iyadh pernah menuturkan, "Tidak jadi beramal karena takut dikatakan riya' oleh manusia, sejatinya itu adalah perbuatan riya'. Dan beramal karena manusia itu adalah kesyirikan."

    Duhai Sahabat, itu artinya yang senantiasa kita lakukan adalah tetaplah beramal baik sambil terus-menerus meminta perlindungan dan pertolongan Allah untuk dapat ikhlas dalam setiap amal, serta dijauhkan oleh-Nya dari kesyirikan dan riya'.

     Maka, dialog hadis di atas menjadi bukti penting bagi kita; Jangan remehkan keikhlasan. Amalnya keren-keren: ada yang terbunuh di medan jihad, ada yang menyampaikan ilmu, bahkan ada yang berinfak siang-malam. Namun, justru Rasulullah SAW mengabarkan berita yang membuat kita menjadi waspada.

    Yaa, sekali lagi, mereka adalah para penghuni neraka mula-mula!

    Bergeraklah sekarang untuk membersihkan hati kita dari kesyirikan walau sekecil apa pun. Sangat berbahaya jikalau syirik sudah menjadi tiang penyangga amal yang kita buat selama ini.

    Semangat selalu, Duhai Sahabat!   

    Saudaramu,
    Abdel Achrian.


*(Dikutip dari Buku Bang Edgar Hamas: Untuk Kalian yang Rindu Perubahan, Sub Tema: Ikhlas)

Share: