Thursday, November 1, 2018

Kabar Dari Sang Mawar



Malam membisikkan inginnya bersamaku
Lewat belaian angin dikirimnya rindu itu
Bertemu dengan kupingku
Masuk mengaliri desiran darahku
Menambah hitungan degup jantungku,

Dalam hentakan bumi rindu, malam ini
Aku merasa dibuai
Oleh sapanya
Membuat sunyi berdansa ria di kulit pipiku
Menampar diamku,
Meruntuhkan dinding imanku,

Betapa tidak,
Bertahun sudah aku kirim kabar rinduku
Lewat gumam doa di sepertiga malam
Namun malam ini,
Kan kuceritakan tatap harap itu
Sejuta inginku akan dirimu

Aduhai rindu,
Antarkan aku kepada muara indahnya akhlakmu
Bantu aku membiasakan diri dengan ayat-Nya yang kau lantunkan begitu lincah
Bawa aku pada kursi raja-ratu sehari
Tuntun aku dalam jalan-Nya

Aduhai rindu,
Peganglah ubun-ubunku,
Indahkan akhlaqku lewat doamu
Panggil aku rindu,
Benarkan bisik langit yang kudengar setiap sepertiga malamnya
Dan nyatakan bahwa bibirmu telah lama mengukir namaku disana,
Ya, di catatan doamu.

Goresan Pena: MSM
Share:

Tuesday, September 4, 2018

THE YOUNG MAN OF HOPE


Bismillaahirrahmanirrahiim


Oleh: Muhammad Syahnuryawan

Tak terasa negeri dan tanah air ini, Republik Indonesia telah menjulang tinggi gagah perkasa 73 tahun lamanya, mengingatkanku dengan perkataan Ir. Sukarno, Sang Proklamator dahulu.

"Beri Aku 10 orang pemuda, maka Aku akan guncangkan dunia."

Ku renungi, bagaimana hanya dengan 10 orang pemuda dapat mengguncangkan dunia? Padahal 11 orang pemuda dalam satu tim sepak bola saja, belum tentu memenangkan pertandingan. Padahal 41 orang siswa/mahasiswa belum tentu baik dalam berkoordinasi di kelasnya. Padahal banyak di antara 101, 1.001, 10.001, 100.001, 1.000.001 pemuda pun masih banyak yang belum baik mengurusi dirinya sendiri. Bisa jadi termasuk diriku ini.

Jumat, 14 Agustus 2015, tepat 1099 hari yang lalu, ketika itu ku dengarkan khutbah Shalat Jumat di Masjid Nurul Irfan, UNJ, yang dimana khutbah tersebut bertemakan "Islam dan Kemerdekaan", baru ku sadari ternyata ada makna dibalik makna, di balik ucapan Ir. Sukarno tersebut.

Ya, ternyata ucapan "10 pemuda dapat mengguncangkan dunia" secara kontekstualnya bukan menandakan seberapa banyak pemuda dapat menggucangkan dunia, melainkan kualitas pemuda itu sendiri yang setelahnya menghasilkan kualitas pemuda jama'i (bersama), dari 1 ke 11 ke 101 ke 1.001 ke 10.001 ke 100.001 ke 1.000.001 pemuda dst. Lalu, pemuda seperti apa yang berkualitas tersebut?

Sejatinya, pemuda berkualitas tersebut atau kalau boleh ku sebut sebagai "The Young Man of Hope" adalah dia yang menanamkan dua hal dalam hati, akal dan tulang punggungnya.

Dua hal tersebut; Ketakwaan kepada Allaah SWT, Tuhan YME yang dibungkus idealisme terhadap nilai-nilai kehidupan, lalu setelahnya hubungan baik kepada sesama manusia dengan semangat untuk menyebarkan dan mengobarkan kebaikan.

Sungguh sahabat, kemerdekaan ini dahulu dapat diraih oleh para pejuang, karena mereka "memantaskan diri" untuk menjadi "pemuda" itu.

Mereka boleh jadi tua secara usia, namun tetap berhati, berakal, dan bertulang punggung layaknya "The Young Man of Hope", pemuda harapan.

So, mari bersinergi, dengan kerja kita berprestasi; bersinergi dalam ketakwaan, bekerja dalam perjuangan, berprestasi dalam idealisme kehidupan.

#kerjakitaprestasibangsa
Share:

Penduduk Khayalan Pagiku


Di tepi sungai pagi ini
Aku tertandang malu
Malu yang mulai setiap paginya menghiasi merah rona pipi ini
Sebab pesanku sudah sudi terbalas olehmu

Cahaya remang matahari pagi menambah kilau binar dari mataku yang kini kau isi dengan decak kagumku akan dirimu
Akan gemerlap cahaya mengagumkan yang kuingat dari mata polos mu

Matamu yang selalu menjauh dari mataku
Menambah keinginan hati memanjat kan doa di malam malam ku
Meminta senja untuk tak datang dulu
Agar kini kunikmati pagi yang jauh dari kulitmu
Dengan hangat senyummu yang kian menyelimuti dinginnya pagi ku
Meski kutau senyum itu tak jarang bukan untukku

Aku tak mudah mengecap rasa,
Pun mengucap cinta,
Namun kini aku tau sekali, bahwa aku tengah tertambat
Oleh jaring sikap dingin mu,

Aku mencintai setiap detik yang kau habiskan,
Mencintai penjagaan yang kau lakukan,
Mencintai matamu yang selalu membuat aku ingin mengulum pagi indah yang kurasakan,
Pagi yang kuhayalkan kuhabiskan menuju senja bersama kau yang ku anggap pangeran,
dikirim dari kayangan

Goresan Pena: Mawar Serambi Mekkah bunga mawar
Share:

Tips-Tips Muatan Materi / Strategi Menjadi Mentor


Bismillaahirrahmanirrahiim

Oleh: Bang Saiful Bahri (Bang Ipung)


1. Memberikan ruang bagi mentee yang terlihat aktif.

2. Terhadap mentee/binaan yang mempunyai kelebihan, diberikan lebih, contohnya saat tilawah.

3. Bentuknya sharing, membuat kesetaraan, transfer ilmu bersama.

4. Membentuk komunikasi 2 arah yang aktif.

5. Mengambil arus pembicaraan (jangan sampai ada kekosongan).

6. Review materi / kita tanya tentang materi yang akan dibahas.

7.  Membangkitkan rasa berani, keinginan akan mempelajari materi, dan perhatian.

8. Sambung dengan cerita, shirah, film (kartun) untuk ketertarikan. Lalu bawa ke dunia Islam.

9. Mengoptimalkan kemampuan mentee.

10. Membaca gestur dan mimik wajah dari mentee.


wallahu a'lam
@abeng87
Share:

Kaidah Dakwah


[Foto: Pertemuan Karisma 31 di Universitas Indonesia]

Bismillaahirrahmanirrahiim


Oleh  : Bang Muhammad Muzlifatul Islam

[21 Februari 2016]

(Q.S. An-Nahl [16]: 125)

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah (bijaksana), pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik......".

1. Memberikan keteladanan, sebelum memberikan seruan/perintah.

2. Berusaha mengikat hatinya dahulu, sebelum mengenalkan/memberikan ilmu.

3. Memberikan pengenalan pengetahuan/ilmu, sebelum memberikan beban.

4. Memberikan beban dengan bertahap-tahap.

5. Memberikan kemudahan, bukan malah mempersulit.

6. Memberikan wawasan atau ilmu yang pokok dahulu, sebelum yang cabang.

7. Memberikan kabar gembira (kesenangan) dahulu, sebelum memberi peringatan.

8. Memberikan pemahaman dahulu, sebelum mendikte/mengarahkan.

9. Mendidik, bukan menelanjangi (sekedar menyuruh dan menelantarkan).

10. Muridnya Guru, bukan muridnya Buku.


Wallahu a'lam.
@abeng87
Share:

Mengubah Persepsi


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Pembicara: Ustadz Fatih Karim

Islam ada untuk memperbaiki akhlak dan peradaban manusia. Islam mengajarkan dari hal yang terkecil seperti masalah buang air, sampai ke hal yang terbesar yaitu membangun sistem kenegaraan.

Menjadi seorang muslim, tidak sepantasnya hidup itu hanya memikirkan hari ini makan apa, dapat uang darimana yak, besok gua harus senang dan bahagia, udah.

Namun, muslim harus punya suatu pandangan agar kehidupan ini dapat mencapai esensinya. Esensi apa? YA, esensi untuk membangun Generasi Rabbani, menggapai surga-Nya.

Apa yang harus kita lakukan untuk melahirkan generasi rabbani? diantaranya mengubah  persepsi hidup :

1. Menjadikan dunia sebagai Daarul 'Amal / Tempat Beramal
  • Ketika sudah menjadikan dunia tempat untuk beramal sholih, niscaya semua muslim akan berlomba dan berebut secuil kebaikan, alias rakus, namun rakus kebaikan.
2. Menjadikan Dunia sebagai Jalan menuju Akhirat
  • Tidak sekedar mengumpulkan harta dan mensejahterakan hidup sendiri. Namun mengejar dunia sebagai jembatan menuju akhirat (surganya Allah). Seperti menjadi kaya untuk bisa berinfak di jalan Allah mengasihi yang hidupnya memiliki kekurangan.
3. Menjadi Muslim yang Kaffah
  • Kebanyakan dari kita belum memasuki islam secara kaffah. Yaitu masih suka pilah-pilih perintah dan larangan Allah Subhana Wata'ala.
Contoh: a) Mengambil ayat tentang sedekah, namun menolak untuk meninggalkan riba.
              b) Mengambil ayat tentang nikah, namun membuang ayat tentang poligami.
              c) Mengambil ayat tentang tidak boleh membunuh, namun membuang ayat tentang hukum qisash.

Hal tersebut yang membuat kita, bahkan negara kita sendiri ini diambang kebingungan, karena tidak sepenuhnya menerapkan ideologi dan syariat Islam.

Dikalau kita semua melihat dunia ini begitu singkat dan kecil. Lalu menjadikan dunia sebagai tempat beramal, mempersiapkan diri menuju akhirat, serta menjadikan Islam utuh tertancap di hati kita, niscaya tidak ada yang dapat kita capai bersama selain keberhasilan melahirkan generasi rabbani.

InsyaAllah...
Wallahu a'lam Bishshowab.
@abeng87
Share:

Perjalanan Hijrahku


Bismillaahirrahmanirrahiim

Perjalanan hijrahku dimulai saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu sebelum lulus dari SMP, bisa dibilang aku adalah seorang remaja yang jauh dari kata baik. Benar saja, saat dahulu di SMP aku tidak pernah ikut sama sekali kegiatan keagamaan, malah aku melakukan maksiat (pacaran), nongkrong tak berfaedah (namun tidak pernah merokok ,dsb) dan malah banyak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler seperti band, karate, dan pramuka. Pun, Aku sebagai orang islam, hanya mengerti kewajiban shalat 5 waktu dan malam jumat kudu ngaji yasinan.

Akhirnya, Aku lulus dari SMPN 7 Jakarta dan diterima di SMAN 31 Jakarta. Disana pada awalnya, aku tidak sama sekali mengetahui soal kegiatan keagamaan yang dinamai Rohani Islam. Ketika ada kegiatan "Gebyar Ekskul" penyambutan kelas 10 (termasuk aku), aku sudah disuruh tampil untuk mempersembahkan gerakan-gerakan pramuka, karena Pramuka SMA 31 mempunyai relasi dengan Pramuka SMP 7. Tentu, di saat itu, aku tidak memerhatikan ekskul lain yang tampil dan berkeliling melihat stand-stand ekskul yang ada.

Setelah gebyar ekskul selesai, aku diberitahu oleh salah satu temanku, bahwa jumat nanti ada "Grand Opening" ekskul Rohis. Dalam hatiku, "rohis apaan dah", namun karena dia teman sekelasku di kelas 10 IPA 2, akhirnya aku mengikuti ajakannya yang katanya disana ada Ice Cream Party.

Setiba hari jumat, aku datang di Grand Opening Rohis 31 yang bertempat di Masjid, namanya Masjid Al-Hikmah. Disana, yang pertama kali aku rasakan adalah rasa ketenangan berada di rumah Allah. Dengan niat ingin memenuhi ajakan temanku sekaligus ingin merasakan ice cream party disana. Ternyata, yang aku dapat bukan sekedar manis dan lezatnya semangkuk ice cream, namun banyak pembicaraan yang membuka pola pikirku tentang islam, tentang menjadi seorang muslim.

Sejak saat itu, Hidayah Allah mulai sedikit-demi sedikit menyapa kelubuk hatiku, ternyata unik sekali hidayah yang Allah berikan kepadaku, dari semangkuk ice cream dan ajakan kecil dari seorang teman. Dan setelah itu, aku mulai dikenali oleh abang-abang Rohis tentang keimanan kepada Allah, kenalnya kita dengan Allah, Sang penguasa alam semesta. Aku mulai aktif kegiatan rohis pada kelas 10, dari halaqah pekanan (mentoring), kegiatan rihlah, sekolah angkatan muda (SAM), hingga tafakur alam.

Alhamdulillaah, hingga aku menjadi seorang qiyadah rohis 31 pada kelas 11, dan menjadi salah satu alumni yang masih terjun membantu kegiatan adik-adik rohis 31 disana. 

Dari sana aku mulai benar-benar sadar, betapa berharganya sebuah hidayah, hidayah yang membuat kita memutuskan untuk hijrah. Hidayah yang tidak semua orang bisa meraihnya, walaupun sudah Allah beri hidayah itu minimal 10 kali dalam lantunan adzan setiap harinya ...

"Hayya 'alal Falaah..."
Mari menuju kemenangan...

Ya, tinggal kitanya apakah mau meraih hidayah Allah tersebut, baik dengan berlari, berjalan, atau merangkak sekalipun.

Tidak ada yang menyangka kapan hidayah itu datang, tergantung kita kapan ingin menjemputnya.

Karena ajal dan kematian tidak diketahui kapan datangnya, untuk itu bersegaralah menjemput hidayah yang Allah berikan.

Semangat karena Allah !
Aku yakin kalian bisa menjadi baik berkat dirimu sendiri tentu dengan izin Allah Subhana Wata'ala.
Karena Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum tersebut mengubah keadaan mereka sendiri (Q.S. 13:11)

Ini cerita perjalanan hijrahku, sampai aku memberanikan menulis kisahku disini, semua berkat Allah.
Barakallaahu fiikum.

@abeng87
Share: