Tuesday, September 4, 2018

Perjalanan Hijrahku


Bismillaahirrahmanirrahiim

Perjalanan hijrahku dimulai saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Saat itu sebelum lulus dari SMP, bisa dibilang aku adalah seorang remaja yang jauh dari kata baik. Benar saja, saat dahulu di SMP aku tidak pernah ikut sama sekali kegiatan keagamaan, malah aku melakukan maksiat (pacaran), nongkrong tak berfaedah (namun tidak pernah merokok ,dsb) dan malah banyak mengikuti kegiatan ekstrakulikuler seperti band, karate, dan pramuka. Pun, Aku sebagai orang islam, hanya mengerti kewajiban shalat 5 waktu dan malam jumat kudu ngaji yasinan.

Akhirnya, Aku lulus dari SMPN 7 Jakarta dan diterima di SMAN 31 Jakarta. Disana pada awalnya, aku tidak sama sekali mengetahui soal kegiatan keagamaan yang dinamai Rohani Islam. Ketika ada kegiatan "Gebyar Ekskul" penyambutan kelas 10 (termasuk aku), aku sudah disuruh tampil untuk mempersembahkan gerakan-gerakan pramuka, karena Pramuka SMA 31 mempunyai relasi dengan Pramuka SMP 7. Tentu, di saat itu, aku tidak memerhatikan ekskul lain yang tampil dan berkeliling melihat stand-stand ekskul yang ada.

Setelah gebyar ekskul selesai, aku diberitahu oleh salah satu temanku, bahwa jumat nanti ada "Grand Opening" ekskul Rohis. Dalam hatiku, "rohis apaan dah", namun karena dia teman sekelasku di kelas 10 IPA 2, akhirnya aku mengikuti ajakannya yang katanya disana ada Ice Cream Party.

Setiba hari jumat, aku datang di Grand Opening Rohis 31 yang bertempat di Masjid, namanya Masjid Al-Hikmah. Disana, yang pertama kali aku rasakan adalah rasa ketenangan berada di rumah Allah. Dengan niat ingin memenuhi ajakan temanku sekaligus ingin merasakan ice cream party disana. Ternyata, yang aku dapat bukan sekedar manis dan lezatnya semangkuk ice cream, namun banyak pembicaraan yang membuka pola pikirku tentang islam, tentang menjadi seorang muslim.

Sejak saat itu, Hidayah Allah mulai sedikit-demi sedikit menyapa kelubuk hatiku, ternyata unik sekali hidayah yang Allah berikan kepadaku, dari semangkuk ice cream dan ajakan kecil dari seorang teman. Dan setelah itu, aku mulai dikenali oleh abang-abang Rohis tentang keimanan kepada Allah, kenalnya kita dengan Allah, Sang penguasa alam semesta. Aku mulai aktif kegiatan rohis pada kelas 10, dari halaqah pekanan (mentoring), kegiatan rihlah, sekolah angkatan muda (SAM), hingga tafakur alam.

Alhamdulillaah, hingga aku menjadi seorang qiyadah rohis 31 pada kelas 11, dan menjadi salah satu alumni yang masih terjun membantu kegiatan adik-adik rohis 31 disana. 

Dari sana aku mulai benar-benar sadar, betapa berharganya sebuah hidayah, hidayah yang membuat kita memutuskan untuk hijrah. Hidayah yang tidak semua orang bisa meraihnya, walaupun sudah Allah beri hidayah itu minimal 10 kali dalam lantunan adzan setiap harinya ...

"Hayya 'alal Falaah..."
Mari menuju kemenangan...

Ya, tinggal kitanya apakah mau meraih hidayah Allah tersebut, baik dengan berlari, berjalan, atau merangkak sekalipun.

Tidak ada yang menyangka kapan hidayah itu datang, tergantung kita kapan ingin menjemputnya.

Karena ajal dan kematian tidak diketahui kapan datangnya, untuk itu bersegaralah menjemput hidayah yang Allah berikan.

Semangat karena Allah !
Aku yakin kalian bisa menjadi baik berkat dirimu sendiri tentu dengan izin Allah Subhana Wata'ala.
Karena Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum tersebut mengubah keadaan mereka sendiri (Q.S. 13:11)

Ini cerita perjalanan hijrahku, sampai aku memberanikan menulis kisahku disini, semua berkat Allah.
Barakallaahu fiikum.

@abeng87
Share:

6 comments:

  1. Nice to see your first blog sob ��

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. Alhamdulillah kak hehe... semangat terus yaa kak

      Delete
  3. Ooo, jadi berawal dari rohis, ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah udah dikunjungi puput. Iya, alhamdulillaah put. Anak nakal ini hatinya luluh seketika cuma karena ice cream.

      Delete